1. Umum
Membahas mengenai media transfer energi listrik,
maka pembahasannya tidak
terlepas dari kabel yang digunakan. Karena sejauh ini media untuk menghantarkan
listrik,
khususnya untuk instalasi tenaga (power) masih
membutuhkan kabel sebagai media
penghantarnya, meskipun sesuai dengan yang pernah
saya baca telah ada yang
menemukan terobosan menggunakan wireless, tapi itupun belum
banyak digunakan dan
masih dianggap oleh banyak kalangan sebagai sesuatu yang kurang efektif. Oleh
karena
itu landasan teori yang akan kita gunakan
dalam pembahasan ini adalah mengenai
penentuan diameter kabel, kemampuan dalam
menghantarkan arus dan rumus-rumus
yang digunakan.
Biasanya yang telah banyak dilakukan dalam menentukan diameter kabel untuk
perencanaan sebuah instalasi tenaga adalah dengan menggunakan tabel yang
dikeluarkan
oleh pabrikan pembuat kabel tersebut. Contoh tabel tersebut adalah
sebagai berikut :

Akan tetapi bila diperhatikan tabel dari antara pembuat kabel satu dengan
lainnya
angkanya ada yang berbeda, walaupun tidak berbeda jauh. Hal itu bisa dimaklumi
karena
dalam memberi toleransi lebih antara orang
satu dengan lainnya berbeda. Perbedaan
angka tersebut juga bergantung dari jenis
isolasi kabel yang digunakan, apakah PVC
(polyvinyl chloride), TPE (thermo plastis elastomer) atau PUR (polyurithane).
Perbedaan
tersebut juga disebabkan oleh penempatan kabel, apakah ditempatkan di
udara bebas, di
tanam dalam tanah atau dalam air.
Dengan bergantung pada tabel tersebut, tentunya sebagian dari kita sebagai
orang
listrik akan timbul ketidakpuasan. Tidak puas
karena kita pernah mempelajari hukumhukum
listrik salah satunya adalah hukum ohm yang
pastinya akan selalu ber korelasi
dengan penentuan diameter kabel listrik dalam
kemampuaanya membawa arus.
Bagaimana kalau tegangan, panjang kabel, jenis
konduktor yang akan kita gunakan
berbeda, apakah penggunaan tabel tersebut masih berlaku untuk kita jadikan
acuan ?
Nah, ini yang akan kita bahas lebih lanjut dalam landasan teori ini.
3.2 Teori Pendukung
3.2.1 Rumus untuk menentukan diameter kabel
Dalam merencana sebuah instalasi tenaga listrik, maka langkah awal setelah
kita mengetahui berapa tegangan listrik serta
daya yang dibutuhkan adalah
menentukan diameter kabel yang akan digunakan.
Dibawah ini adalah rumus
dalam menentukan diameter kabel :

Dari rumus diatas, secara garis besar dapat
kita lihat bahwa penampang
kabel berbanding lurus dengan panjang kabel
dan berbanding terbalik dengan
tegangan, artinya semakin panjang kabel yang digunakan serta untuk memperoleh
tegangan yang konstan maka semakin besar
pula penampang kabelnya. Akan
tetapi pada prakteknya selalu ada saja rugi tegangan pada penghantar, maka
dalam
rumus diatas disertakan juga rugi tegangan
yang kita inginkan ( ev ), yang
nantinya rugi tegangan inilah yang akan
berhubungan dengan hukum ohm,
menentukan I (arus) yang dihasilkan. Jenis konduktor
yang dalam rumus di atas
dituliskan sebagai y atau daya hantar
jenis, juga akan menentukan penampang
kabel, 56 untuk daya hantar jenis tembaga,
32,7 untuk daya hantar jenis
alumunium dan 7 untuk daya hantar jenis besi. Akan tetapi
tembaga adalah jenis
penghantar yang paling umum digunakan maka
dalam rumus di atas yang
dituliskan adalah daya hantar jenis tembaga.
Contoh soal 1:
Sebuah pemanas heater 380 volt 10000 watt
rencananya akan disambungkan
dengan kabel tembaga dengan panjang 350 meter dari sumber listrik (panel), rugi
tegangan yang diinginkan adalah 5 volt.
Hitung berapa diameter kabel yang
dibutuhkan ?
Penyelesaian :
q = ( L . N ) : ( y . ev . E )
q = (350 . 10.000) : ( 56 . 5 . 380 )
q = (3.500.000) : (106.400)
q = 32,8 mm2
Jadi, penampang kawat tembaga yang dibutuhkan untuk pemanas heater
dengan
instalasi sepanjang 350 meter adalah 32,8 mm atau bila
memakai ukuran kabel
yang umum dijual di pasaran adalah dengan ukuran kabel 35 mm2
3.2.2 Rumus untuk mengetahui resistansi (hambatan) dalam kabel
Hal yang perlu kita ketahui selanjutnya setelah menentukan diameter kabel
adalah mengetahui resistansinya, karena seperti yang
telah kita ketahui bersama
bahwa resistansi inilah dalam hukum ohm
nilainya akan berbanding terbalik
dengan tegangan (V) dan arus (I). Rumus
untuk mengetahui resistansi dalam
kabel adalah :

Karena pada umumnya yang kita ketahui pada kabel adalah diameter penampang,
sedangkan untuk menggunakan rumus di atas harus
diketahui luas penampang,
maka kita dapat mencarinya dengan rumus :
Contoh soal 2 :
Dari contoh soal no.1 di atas, selanjutnya
akan dapat kita ketahui berapa
resistansinya dengan memakai rumus 1.2 di atas.
Penyelesaian :
3.2.3 Hukum Ohm
Pada suatu rangkaian tertutup, seperti gambar dibawah ini :
Besarnya arus I berubah sebanding dengan
tegangan V dan berbanding terbalik
dengan beban tahanan R, atau dapat dinyatakan dengan rumus :
Contoh soal 3 :
Dari contoh soal gabungan no.1 dan 2 di atas dengan menggunakan hukum ohm,
maka kita akan dapat mengetahui kerugian daya listrik yang ada pada
penghantar
sepanjang 350 meter tersebut.

Untuk mengetahui rugi daya yang ada pada penghantar, maka yang kita gunakan
adalah R total, R total adalah penjumlahan R1 dan R2 yaitu = 14,4404332 + 0,175
= 14,6154332
Daya (P) keseluruhan setelah dihubungkan kabel 35 mm2 adalah
= I2 . R
P total = 26,3152 . 14,6154332
P total = 692,479225 . 14,6154332
P total = 10120 watt
Rugi daya pada penghantar adalah P total – P beban = 10120 – 10000 = 120 watt
Jadi, dengan demikian dapat diketahui bahwa heater pemanas 10000 watt 380 volt
yang dihubungkan dengan kawat tembaga diameter
32,8 mm2 sepanjang 350
meter, rugi dayanya adalah sebesar 120
watt.
Disamping faktor diatas, rugi-rugi listrik juga dapat
disebabkan oleh media isolasi yang
tidak baik sehingga arus bocor mengalir. Perhitungan sama arus yang mengalir
dikalikan
dengan besarnya dari tahanan tersebut. Jika
seandainya instalasi kabel heater pemanas
diatas memakain acuan tabel, maka kita dapat
hitung betapa banyaknya rugi-rugi daya
listrik yang ditimbulkan.
3.3 Jenis Daya Listrik
3.3.1 Daya aktif
Untuk tenaga listrik nyata (wujud) yang dikeluarkan
oleh arus bolak-balik
yang mempunyai fasa
adalah :
Dalam jumlah usaha nyata/ wujud yang dilakukan oleh arus dan tegangan
bolakbalik
yang mempunyai fasa yaitu sebesar :
3.3.2 Daya reaktif (VAR)
Adalah daya listrik yang secara electric
bisa diukur, secara vektor
merupakan penjumlahan vektor dari perkalian E x
I dimana arus mengalir pada
komponen resistor sehingga arah vektornya searah dengan
tegangan, dan vektor
yang arah 90 deg terhadap tegangan, tergantung
pada beban seperti induktif dan
kapasitif. Biasanya daya yang searah dengan tegangan disebut dengan daya aktif,
sedangkan yang lain disebut dengan daya reaktif.
Untuk tenaga listrik reaktif yang dikeluarkan
oleh arus bolak-balik yang
mempunyai fasa dengan tegangan bolak-balik yaitu :
3.3.3 Segitiga daya
Dari hal tersebut diatas, maka daya listrik
yang digambarkan sebagai
segitiga siku-siku yang secara vektoris adalah penjumlahan daya aktif dan
reaktif
dan sebagai resultannya adalah daya semu atau daya buta.
3.4 Macam – Macam Besaran Listrik dan Satuannya
3.4.1 Tabel Besaran Listrik
3.4.2 Tabel Satuan Turunan